"Aku bagai buih ditepi pantai, tersapu ombak terhempas badai" itulah curahan hati Liya.
Jatuh bangun Liya mengejar Imyon namun Imyon tiada mengerti.
Liya adalah sosok wanita lembut gemulai.
Kisah liya sangat panjang dalam mengarungi bahtera cinta tuk dapat menggapai segala apa yang diimpikannya, dan saking panjangnya sampai tidak ada yang ingin mendengarkannya.
Padahal kisah kehidupan Liya Saptari sangat unik dan layak untuk di angkat dalam Novel horor.
Bekerja di MMS bukan impian awal Liya, ia tidak pernah bermimpi akan bertugas sebagai data entry MMS sampai saat ini ia masih mempertanyakan hal itu. Bagai mana ia tidak pernah bermimpi dan dapat wangsit letika bertapa dikuburan akan bekerja di Jakarta namun kenyataannya ia kini bekerja di Jakarta.
Terlepas dari permasalahan wangsit. Kembali pada topik impian Liya. Impian Liya pada saat masih duduk dimeja dan menulis di bangku sekolah adalah bekerja di Luar Negeri, dan bekerja diluar negeri adalah sebuah impian terdalam dari diri Liya Saptari.
Cita-cita Liya sungguh mulia ingin bekerja di luar negeri sebagai penyumbang devisa negara. Sedang Negara yang dibidik Liya adalah Timor Timur.
Gagal jadi pahlawan devisa membuat ia kembali berkelana mencari jati diri. Ia berangkat ke Jakarta seorang diri dengan berbekal nekat. Tampa pernah tau Jakarta itu apa? Apa nama makanan nama jalan atau nama benda.
Setelah tanya sana sini akhirnya Liya tahu kalo jakarta adalah nama Kota terbesar di Indonesia.
Kembali pertanyaan menyeruak dalam benak Liya Apa itu Indonesia dan dimana? Jauhkah dari Wonosobo? Naik apa saya ke Indonesia.
Akhirnya karena bingung kenekatan Liya hilang berubah menjadi rasa takut yang mencekam pikirannya. Ke Jakarta harus ke Indonesia dulu dan dia ada di Wonogiri. Maka Liya urungkan niat ke Jakarta dan dia lebih memilih pergi ke kaki gunung Bromo untuk menemui Eyang Okib guna mempelajari jalan menuju jakarta dan Indonesia.
Setelah Eyang Okib menjelaskan dengan gamblang tentang Indonesia, Liya sadar ia ada di Indonesia sekarang dan Liya sangat berterima kasih pada Eyang Okib yang telah menunjukan tentang Indonesia dan dimana Jakarta berada.
Setahun berguru pada Eyang Okib hampir saja Liya di jadikan istri ke 20 namun Liya keburu sadar akan perangkap benih asmara yang ditaburkan dalam palung hati Liya oleh sang Eyang Okib.
Liya pun kabur dari padepokan Eyang Okib menuju Jakarta.
Sesampainya di Jakarta.
Liya menginjakan kaki di terminal Pulogadung tuk kali pertamanya. Langsung bergegas menuju Pantai Indah Kapuk kediaman kedua orangtuannya
Bersambung....... Bagian 2

Posting Komentar